Sabtu, September 27, 2008

Apa itu dejavu ?

Beberapa hari yang lalu saat aku sedang bermain-main dengan HPku, seorang temen memintaku untuk mentransfer/mengirim sebuah lagu untuknya, dan aku memilih menggunakan bluethooth untuk mentransfernya. Seperti biasanya sebelum file ditransfer, aku harus mencari nama Bluetooth temanku tersebut dulu. Kemudian yang kutemukan adalah Bluetooth bernama Déjà vu, kemudian aku iseng-iseng tanya “apa sih arti dejavu?” ternyata dia menjawab nggak tahu. Sejak kejadian itulah aku berusaha mencari tahu arti dejavu dan terinspirasi untuk menulis ini, mungkin tulisan ini akan membantu pembaca yang kebetulan bernasib sama dengan temanku tersebut.

Pernahkah anda mengalami sebuah posisi dimana tindakan,tokoh dan tempat terasa sudah pernah terjadi tetapi anda tidak tahu kapan ? dan anda tidak bisa benar-benar mengingat kejadian tersebut ? Tak usah berusaha mengingat-ngingat karena itulah yang disebut dengan Déjà vu. Kadang-kadang datang begitu saja. hehe…
Kesimpulannya Déjà vu adalah Sebuah perasaan aneh yang memperlihatkan bahwa sebuah kejadian yang sedang kita alami adalah pernah kita alami jauh sebelumnya.

Déjà vu sendiri berasal dari sebuah frasa Perancis yang artinya adalah “Pernah Melihat” atau “Pernah Mengalami”.
Dan berdasarkan survey yang dilakukan setidaknya 70% penduduk di bumi ini pernah mengalami fenomena Déjà vu ini.

So, Just take it easy !!

Tolak Ukur Keberhasilan Puasa

Sekarang ini tanggal sudah tanggal 27 September yang betepatan juga dengan tanggal 27 Bulan Ramadhan, sebagaimana kita tahu ini adalah hari-hari menjelang datangnya Idul Fitri 1429 H yang berarti puasa kita hampir selesai. Setelah berpuasa selama 27 hari, tentu hari-hari ini adalah 3 hari yang paling menegangkan selama puasa. Dimana mungkin akan timbul kesedihan bagi mereka yang benar-benar menikmati puasa, atau sebaliknya akan timbul rasa senang bagi yang sudah sangat bosan dengan rutinitas di bulan puasa. Bagaimana dengan kita..? termasuk manakah kita ini..? Yang bisa menjawab hanyalah diri kita sendiri, dan semua itu bergantung pada iman kita masing-masing.

Ada beberapa parameter utama sebagai tolak ukur keberhasila puasa kita, yaitu :

Pertama, Apakah dalam masa sebulan kita menjalankan ibadah puasa makan dan minum kita lebih banyak atau lebih sedikit daripada bulan-bulan lainnya? Jika volume makanan yang kita makan dalam bulan puasa justru meningkat.Bisa saja disebabkan rasa lapar yang terakumulasi dari terbit fajar, sehingga kita lampiaskan begitu saja ketika kita mendengar adzan maghrib. Dan ketika kita melaksanakan tarawih sudah nggak bisa khusyu’ lagi bahkan kesulitan menegakkan badan karena terlalu banyak makanan yang masuk kedalam tubuh kita dan memberatkan kita, belum lagi ditambah rasa ngantuk yang mendera, seakan-akan kita disiksa oleh banyaknya rakaat yang belum dilaksanakan. Tetapi jika sebaliknya, pada bulan puasa volume makanan kita menurun atau berkurang karena kebiasaan menahan lapar tersebut, dan kita nggak lagi balas dendam makan makanan sebanyak-banyaknya ketika berbuka maka puasa kita sudah mendekati berhasil.

Kedua, Apakah setelah kita melakukan puasa selama sebualan berat badan kita berubah?, jika berat badan kita bertambah jadi semakin berat, bisa jadi kita ini termasuk makhluk pendendam yang seenaknya membalaskan dendamnya saat waktu berbuka tiba, dengan makan sebanyak-banyaknya dan dengan cara itu baru kita merasa dendam kita telah terbalaskan, perlu diingat juga bahwa balas dendam itu tidak baik. Makhuk yang serakah adalah setan. Tetapi jika berat badan kita menurun setelah melaksanakan puasa, maka bisa juga disimpulkan kita telah berhasil mengendalikan nafsu. Dalan hal ini adlah nafsu makan, karena jika dalam hari-hari biasa kita makan sehari 3 kali, dalam bulan puasa hanya 2 kali, yaitu saat Berbuka dan Sahur.

Ketiga, Zakat,infak atau kegiatan sosial lainnya. Seharusnya setelah kita berhasil menaklukan bulan puasa, maka kita telah teridik untuk berempati menikmati rasa lapar,haus, dan kita jadi mudah tersentuh jika melihat orang-orang yang kesulitan mendapatkan makanan. Dengan begitu kita jadi lebih mudah tergerak untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial atau tidak segan-segan lagi untuk mengeluarkan zakat.

Seperti itulah kira-kira parameter sederhana yang bisa kita gunakan untuk sekedar mengoreksi diri-sendiri terhadap ibadah puasa yang telah kita lakukan dengan susah payah sampai berhasil selama satu bulan penuh. Dan Sekarang bersiap-siaplah untuk menyambut Idul Fitri...!